Nama :
Theresa Ludwig
NPM :
27212349
Kelas : 4EB24
BAB
VI
TRANSLASI
MATA UANG ASING
A. Alasan
Translasi Mata Uang Asing
Perusahaan dengan
operasi luar negeri yaitu Perusahaan dengan operasi yang luas, tidak dapat
menyiapkan laporan keuangan konsolidasi jika akun-akun mereka dan akun-akun subsidiaries tidak diungkapkan dalam
satu mata uang.
Skala kegiatan
investasi internasional yang meluas saat ini meningkatkan kebutuhan penyampaian
informasi kepada pembaca di negara lain yg signifikan menyusun laporan keuangan
konsolidasi yang memungkinkan para pembaca laporan untuk mendapatkan pemahaman
yang holistic atas operasi perusahaan, baik domestic dan luar negeri
Tiga alasan tambahan
dilakukannya translasi mata uang asing, yaitu:
1)
Mencatat transaksi mata uang asing;
2)
Memperhitungkan efeknya perusahaan
terhadap translasi mata uang; dan
3)
Berkomunikasi dengan peminat saham
asing.
B. Latar
Belakang Dan Terminologi
Translasi mata uang
asing tidaklah sama dengan konversi, yaitu pertukaran fisik antara satu valuta
dengan valuta lainnya. Translasi mata uang asing merupakan transasi sederhana
dalam ekspresi moneter. Mekanisme yang digunakan untuk mentranslasi saldo-saldo
valuta asing kedalam valuta domestic
yang ekivalen adalah kurs valuta asing, yaitu, harga satu unit valuta yang
ditunjukan ke dalam valuta lain.
C. Efek
Laporan Keuangan Terhadap Kurs Alternatif Translasi Mata Uang Asing
Tiga kurs translasi
dibawah ini dapat digunakan untuk mentranslasikan neraca mata uang asing
terhadap mata uang domestik. Pertama, kurs saat ini, adalah kurs yang berlaku
pada tanggal laporan keuangan. Kedua, adalah kurs historis, yang merupakam
translasi mata uang yang berlaku saat aset dengan mata uang asing pertama kali
muncul. Yang terakhir kurs rata-rata, yaitu nilai rata-rata bursa atau dengan
pembobotan baik pada kurs historis atau saat itu Transaksi mata uang
asing
Perbedaan karakteristik
pada transaksi mata uang asing adalah perjanjian yang dipengaruhi oleh mata
uang asing. Oleh karena itu, transaksi mata uang asing akan muncul saat
perusahaan membeli atau menjual produk yang pembayarannya menggunakan mata uang
asing atau juga saat pinjam meminjam dengan mata uang asing
D. Translasi
Mata Uang Asing
Pengertian Translasi
atau Translation adalah proses
pernyataan kembali informasi laporan keuangan dari satu mata uang ke mata uang
lain. • Isu kurs dikombinasikan dengan berbagai methode translasi yang dapat
digunakan dan perlakuan “Laba/Rugi” translasi yang berbeda membuat perbandingan
hasil-hasil laporan keuangan dari satu perusahaan ke perusahaan lain atau
perusahaan yang sama dalam periode yang berbeda menjadi hal yang sulit. Lana
Sularto
Translasi mata uang
asing adalah proses pelaporan informasi keuangan dari satu mata uang ke mata
uang lainnya. Translasi mata uang asing dilakukan untuk mempersiapkan laporan
keuangan gabungan yang memberikan laporan pada pembaca informasi mengenai operasional
perusahaan secara global, dengan memperhitungkan laporan keuangan mata uang
asing dari anak perusahaan terhadap mata uang asing induk perusahaan.
Transaksi mata uang
bisa terjadi langsung di pasar spot, pasar forward, atau pasar swap. Kurs pasar
spot dipengaruhi berbagai faktor, termasuk juga perbedaan tingkat inflasi antar
negara, perbedaan pada saham nasional, dan ekspektasi mengenai arah tingkat
mata uang selanjutnya. Kurs ini bersifat langsung atau tidak langsung. Kurs
pada pasar forward adalah persetujuan untuk mentranslasikan sejumlah mata uang
yang telah ditetapkan untuk masa yang akan datang. Transaksi pada
pasar forward mendapatkan potongan atau premi dari pasar spot, atau sebagai
tingkat palsu pasar forward.
Transaksi kurs swap
melibatkan pembelian spot dan penjualan forward yang simultan, atau penjualan
spot dan pembelian forward mata uang. Pada perspektif transaksi ganda,
penerimaan piutang mempertimbangkan kejadian yang terpisah dari penjualan yang
memberikan tambahan pendapatan.
Pendekatan akuntansi
untuk penyesuaian translasi mata uang asing, yaitu:
1)
Penangguhan
2)
Penangguhan dan Amortisasi
3)
Penangguhan Sebagian
4)
Tidak Ada Penangguhan
E. Metode
Nilai Berganda
Metode kurs berganda
menggabungkan kurs nilai tukar historis dan kurs nilai tukarkini dalam proses
translasi.
a)
Metode Kini-Nonkini
Berdasarkan
metode kini-nonkini, aktiva lancar dan kewajiban lancar anak perusahaan
luar negeri ditranslasikan ke dalam mata uang pelaporan
induk perusahaannya berdasarkan kurs kini. Aktiva dan kewajiban tidak
lancarditranslasikan berdasarkan kurs historis. Pos-pos laporan laba rugi
(kecuali bebandepresiasi dan amortisasi) ditranslasikan sebesar kurs rata-rata
yang berlaku dalamsetiap bulan operasi atau berdasarkan rata-rata tertimbang
selama keseluruhanperiode pelaporan. Beban depresiasi dan amortisasi ditranslasikan
sebesar kurshistoris yang tercatat saat aktiva tersebut diperoleh.Namun
demikian, metode ini tidak mempertimbangkan unsur ekonomis.Menggunakan kurs
akhir tahun untuk mentranslasikan aktiva lancar secara tidak langsung
menunjukkan bahwa kas, piutang, dan persediaan dalam mata uang asingsama-sama
menghadapi risiko nilai tukar.
b)
Metode Moneter-Nonmoneter
Metode
moneter-nonmoneter juga menggunakan skema klasifikasi neracauntuk menentukan
kurs translasi yang tepat. Aktiva dan kewajiban moneterditranslasikan
berdasarkan kurs kini. Pos-pos nonmoneter (aktiva tetap,
investasi jangka panjang dan persediaan investor) ditranslasikan dengan menggunakanprosedur
yang sama dengan yang dijelaskan untuk konsep kini-nonkini.Tidak seperti
halnya metode kini-nonkini, metode ini melihat bahwa aktivadan kewajiban
menghadapi risiko mata uang asing. Karena pos-pos moneter akandiselesaikan
dengan menggunakan uang tunai, penggunaan kurs kini untuk mentranslasikan
pos-pos ini menghasilkan nilai ekuivalen dalam mata uangdomestik yang
mencerminkan nilai realisasinya atau nilai penyelesaiannya. Akantercermin pula
perubahan atas nilai ekuivalen dalam mata uang domestik utang jangka
panjang pada periode di mana utang tersebut terjadi, sehingga
menghasilkanindikator pengaruh nilai tukar valuta asing yang lebih tepat
waktu.Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa metode
moneter-nonmoneterbergantung pada klasifikasi skema neraca untuk menentukan
kurs translasi yangtepat
c)
Metode Temporal
Dengan
menggunakan metode temporal, translasi mata uang merupakanproses konversi
pengukuran atau penyajian ulang nilai tertentu. Metode ini tidak mengubah
atribut suatu pos yang diukur, melainkan hanya mengubah unitpengukuran.
Translasi saldo-saldo dalam mata uang asing menyebabkanpengukuran ulang
denominasi pos-pos tersebut, tetapi bukan penilaiansesungguhnya. Berdasarkan
GAAP AS, kas diukur berdasarkan jumlah yangdimiliki pada tanggal neraca.
Piutang dan utang dinyatakan sebesar jumlah yangdiperkirakan akan diterima atau
akan dibayarkan pada saat jatuh temponya.Berdasarkan metode temporal, pos-pos
moneter seperti kas, piutang dan utangditranslasikan berdasarkan kurs kini.
Pos-pos nonmoneter ditranslasikan dengankurs yang mempertahankan dasar
pengukuran pada awalnya. Secara khusus, aktivayang dinilai dalam laporan mata
uang asing sebesar biaya historis ditranslasikanberdasarkan kurs historis.
Hal ini dikarenakan biaya historis dalam mata uang asingyang
ditranslasikan dengan kurs nilai tukar historis menghasilkan biaya
historisdalam mata uang domestik. Hal yang sama juga berlaku untuk pos-pos
nonmoneteryang dicatat di luar negeri berdasarkan nilai kini ditranslasikan
denganmenggunakan kurs nilai tukar kini akan menghasilkan nilai kini dalam mata
uangdomestik.Apabila pos-pos nonmoneter di luar negeri dinilai dengan
menggunakanbiaya historis, prosedur translasi yang digunakan dalam metode
temporal secarakasat mata sama dengan prosedur dalam metode moneter-nonmoneter.
Dua metodetranslasi ini hanya berbeda jika dasar penilaian aktiva lainnya yang
digunakan,seperti biaya penggantian, nilai pasar, atau arus kas
terdiskonto.Karena kemiripannya dengan metode moneter-nonmoneter, metode
temporalmemiliki keuntungan dan kerugian yang sama. Karena secara sengaja
mengabaikaninflasi lokal.
F. Pengembangan Akuntansi Translasi Mata
uang Asing
Beberapa perspektif
historis tentang akutansi Translasi Mata Uang Asing di Negara amerika sebagai
berikut:
1)
Pra 1965
: Praktik translasi mata uang asing masih dipandu oleh bab 12
dari Accounting Research Bulletin No 43
2)
1965-1975 : Translasi mata uang asing seluruh pembayaran dan penerimaan
mata uang asing pada kurs saat ini diperbolehkan setelah Accounting
Principles Board Opinion No 6 dikeluarkan pada tahun 1965.
3)
1975-1981 : FASB mengeluarkan FAS no
8 pada tahun 1975.
4)
1981-sekarang : FASB
mengeluarkan Statement of Financial Accounting Standards no 52 tahun
1981.
G.
Gambaran Standard No. 52 / Standar Akuntansi Internasional 21
Tujuan translasi mata
uang asing dalam FAS No. 8 berbeda secara substansi dari FAS No. 52. FAS No.8,
mengadopsi perspektif induk perusahaan dengan memberi syarat bahwa laporan
keuangan mata uang asing dipresentasikan jika seluruh transaksi mengikuti mata
uang yang digunakan induk perusahaan. Standar No. 52 mengakui bahwa kedua
perspektif baik induk perusahaan maupun perusahaan lokal benar sebagai kerangka
kerja laporan. Pada level internasional, IASB mengeluarkan keputusan paralel,
IAS 21, yang sekarang berkembang untuk mengklarifikasi persyaratannya dan
memecahkannya. Keduanya, FS No. 52 dan versi baru IAS 21 bertujuan untuk:
1)
Menampilkan, dalam laporan gabungan,
hasil keuangan dan keterhubungan dihitung dengan mata uang primer yang
dikonsolidasikan antara laporan induk dan anak perusahaan bisnis (dengan mata
uang fungsional)
2)
Menyediakan informasi yang secara umum
kompatibel dengan efek ekonomi yang diharapkan pada perubahan nilai tukar pada
ekuitas dan arus kas perusahaan.
Daftar
Pustaka
lana.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/.../5+TranslasiMataUangAsing.ppt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar